Sunday, October 25, 2015

Edisi Aksara Jawa: Makna Aksara “Ka”

1 comments
Dalam urutan aksara Jawa, setelah “ra” adalah aksara “ka”. Sama seperti aksara-aksara sebelumnya, aksara “ka” juga mempunyai maknanya sendiri. Aksara “ka” secara sederhana mempunyai makna “berkumpul.” Di sini, makna “berkumpul” bisa diartikan bahwa pada setiap manusia mempunyai sifat-sifat ke-ilahi-an, disamping juga sifat-sifat buruk. Maka, berkumpulnya kedua sifat tersebut di dalam diri manusia seringkali memunculkan pertentangan-pertentangan yang berkecamuk di dalam diri manusia.
Namun, ketika manusia bisa mengelola dengan baik sifat-sifat ke-ilahi-an yang ada di dalam diri, yang terjadi adalah kemudian makna yang lebih mendalam daripada “berkumpul”, yaitu sifat yang lebih luas, yang berkaitan dengan hubungan antara manusia dana lam semesta, yaitu “Karsaningsun Hamemayuhayuning Bawana.” Sudah banyak diketahui bahwa “Hamemayuhayuning Bawana” adalah salah satu perwujudan bahwa manusia adalah khalifah di bumi.
Terkait dengan khalifah, ada satu hal yang menarik untuk dibahas. Bahwa pengertian khalifah adalah “pemimpin” atau juga bisa sebagai “pemelihara”, namun disini, pemimpin yang bagaimana? Atau pemimpin di bumi bagian apa? Secara sederhana, pemimpin yang baik selalu ditaati oleh bawahannya, maka ketika pemimpin itu memerintahkan sesuatu, maka bawahannya akan langsung mengerjakannya. Nah, terkait dengan manusia sebagai khalifah di bumi, seharusnya jika manusia memimpin dan mengelola alam dengan baik, maka alam (bumi) akan mematuhi manusia. Sebagai contoh, pada zaman dahulu, sering terdengar kisah-kisah bahwa ada orang-orang sakti yang bisa berjalan di atas air, atau terbang menggunakan pelepah pisang, dan sebagainya.
Terlepas dari hal itu, bahwa manusia memang harus mempunyai semangat “Hamemayuhayuning Bawana”, terutama pada era sekarang dimana modernisasi dan industrialisasi berkembang dengan cepat. Banyaknya kasus kebakaran hutan, manusia secara umum harus bertanggung jawab. Perilaku ceroboh serta tamak untuk mengeksploitasi kekayaan alam tanpa memperhatikan kelangsungan hidup makhluk lain merupakan sifat-sifat yang jauh dari semangat “Hamemayuhayuning Bawana.”
Sikap “Hamemayuhayuning Bawana” bukan hanya menikmati keindahan alam, kemudian berfoto-foto di alam bebas. Lebih dari itu, “Hamemayuhayuning Bawana” adalah sikap menjaga kelestarian lingkungan. Ketika beberapa waktu lalu sebuah berita tentang kebakaran hutan di Gunung Lawu disebabkan oleh api unggun para pendaki, yang notabene adalah “pecinta alam”, tentu saja mengejutkan. Lalu juga, tren yang muncul di media sosial yang memamerkan hewan buruan yang merupakan hewan-hewan langka yang dilindungi. Yang bisa ditarik persamaan dari itu semua, rata-rata pelaku masih merupakan remaja. Cukup memprihatinkan.
Selain bahwa makna aksara “ka” adalah “berkumpul” yang kemudian memunculkan sifat “melestarikan dan menjaga kesejahteraan alam”, aksara “ka” bisa digabungkan dengan aksara lain untuk memunculkan makna lain. Kata “kama” yang penggabungan dari aksara “ka” dan “ma” bisa berarti benih, bibit atau biji. Makna kata ini sangat dekat kaitannya dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Yaitu ketika berkumpulnya laki-laki dan perempuan dan saling memberikan bibit, benih, atau bijinya masing-masing untuk bersatu dan menjadi sebuah kehidupan yang baru.
Dari benih laki-laki dan perempuan, kehidupan di bumi akan terjaga. Ketika dua manusia laki-laki dan perempuan saling berkumpul untuk menyatukan raga, menyatukan rasa, maka penyatuan benih dari kedua manusia laki-laki dan perempuan akan memberikan kehidupan yang baru. Kehidupan baru inilah yang nantinya akan meneruskan tugas sebagai khalifah di bumi, menjaga serta memimpin bumi dengan semangat “Hamemayuhayuning Bawana.”
Read more ►

Sunday, March 8, 2015

PLTA - Pembangkit Listrik Tenaga Akik

0 comments
Popularitas akik-akik (bukan aki-aki) belakangan memang menanjak tajam seperti tanjakan menuju puncak Suroloyo, atau tanjakan dekat rumah yang sering saya taklukan dengan sepeda kesayangan tiap sore. Bahkan tayangan mistis di televisi pun sering menampilkan batu akik ketika adegan sang paranormal melakukan penarikan benda gaib....


Akik. Entah siapa yang pertama kali membuatnya ujug-ujug terkenal seperti Cita Citata. Namanya pun unik, cocok digunakan sebagai nama grup musik metal; Bacan, Black Opal, Bulu Monyet, Blue King Saphir - dan yang sempat populer di tahun 90an, Merah Delima warna bibirnya, Merah delima yang aku suka, Merah delima, lima, lima..








***








Meroketnya akik memang membawa berkah bagi pengrajin batu akik tradisional dan juga penambang batu dadakan; menyusuri sungai agar menemukan batu akik 20 ton. Mungkin setelah booming batu akik ini juga bakal ada fenomena kepala batu di Indonesia.








Karena Indonesia juga mengenal fenomena aji mumpung, mungkin pemerintah mempunyai wacana untuk membangun PLTA baru. Bukan Pembangkit Listrik Tenaga Air, tapi Pembangkit Listrik Tenaga Akik.








Semoga nasibmu tidak seperti tanaman mellow Gelombang Cinta atau Jenmanii, atau juga tanaman pakan ikan grameh Senthe. Long Live Akik!!!
Read more ►

Wednesday, December 17, 2014

Fenomena Pendekar Tongkat Emas

0 comments
Dunia perfilman Indonesia makin bergairah dan bervariasi ketika sebuah film baru dengan genre yang tidak mainstream dirilis, dengan judul yang sedikit menarik perhatian; "Pendekar Tongkat Emas." Sesuai judulnya, film ini merupakan film dengan silat Indonesia sebagai sajian utamanya. Benarkah?
Jujur sayapun belum menyaksikan film ini, namun dari gambar-gambar yang banyak muncul di berbagai media khususnya internet, sepertinya film ini sedikit banyak terpengaruh film silat model Cina. Karena jika diamati (lagi-lagi dari ulasan tentang film ini yang banyak bertaburan di internet) setting film ini tidak terlalu jelas pada periode sejarah Indonesia yang mana? Tetapi mari kita berpikir positif, film ini mungkin dibuat full fiksi.

Dan sebagai full fiksi, sah-sah saja apabila sutradara ingin menciptakan dunia sendiri, tokoh sendiri yang belum pernah ada. Akan tetapi sebagai penggemar cerita silat Indonesia, saya sebenarnya ingin bahwa salah satu dari sekian banyak pembuat film asli Indonesia membuat film silat berdasarkan cerita silat yang sudah dikenal masyarakat.

Sebut saja, karya-karya Pak Singgih Hadi Mintardja yang begitu banyak, atau jika ingin menampilkan kisah silat campuran Jawa-Cina bisa mengambil karya Pak Asmaraman Ko Ping Ho. Belum lagi cerita silat karya penulis-penulis 'modern' seperti karya-karya Pak Langit Kresna Hariadi, atau serial Nagabumi-nya Pak Sena Gumira Ajidarma. Atau mungkin serial Wiro Sableng yang sudah banyak dikenal masyarakat dibuat kembali.

Namun secara pribadi, saya sendiri lebih memilih serial Nagasasra dan Sabuk Inten karya Pak SH Mintardja jika di kemudian hari ada sineas yang ingin membuat film silat (lagi). Pertama, ceritanya yang berlatar era Majapahit akhir sampai Pajang awal bisa sebagai media pembelajaran bagi generasi muda. Dengan kombinasi fiksi dan non-fiksi, hal ini akan menjadi sarana yang bagus untuk mempelajari sejarah.

Yang harus diperbaiki dari perfilman Indonesia (meskipun tidak semua) adalah mental "modal sedikit untung banyak", karena film kolosal pasti membutuhkan modal yang besar. Berbeda dengan film-film "modal sedikit" yang malah seringkali menampilkan pembohongan publik. Sebagai penikmat film, sepertinya kita harus lebih berpikir ketika menonton film-film jenis itu karena seringkali mengangkat mitos yang merugikan (seringkali) suku Jawa.

Tetapi terlepas dari itu semua, munculnya film "Pendekar Tongkat Emas" mampu mengobati kerinduan akan cerita silat yang sudah lama tidak muncul di Indonesia. Saya ingat ketika masih kecil menonton pertunjukan layar tancap, atau sorot, istilah yang kami pakai, di lapangan desa yang menampilkan film silat semacam "Walet Merah", "Si Buta dari Goa Hantu", atau "Panji Tengkorak."

Maju terus film silat Indonesia...!!
Read more ►

Wednesday, November 5, 2014

Masyarakat Gumunan

0 comments
Setelah cukup lama tidak nulis di blog ini, sepertinya kok ada dorongan "nuliso neng nglengkong..." dan setelah berdiam diri cukup lama memikirkan apa yang harus ditulis di blog ini, akhirnya saya menemukan sebuah topik yang nampaknya sedikit menjadi tren dan sering muncul di berita-berita. Masih seputar masyarakat Indonesia, yang perlahan saya rasakan sudah bertransformasi menjadi "masyarakat gumunan" beberapa waktu terakhir.
Pada dasarnya, manusia memang suka melihat sesuatu yang indah, yang sedap dipandang karena Tuhan juga menyukai segala sesuatu yang indah, jadi ya tidak bisa seratus persen salah. Saya juga seperti itu. Dan seolah memenuhi hal itu, media-media baik media massa atau elektronik sering menampilkan sosok cantik atau ganteng yang judulnya hampir selalu sama; "Komuter Ganteng Bikin Geger Dunia Maya", atau "Atlet Voli Cantik Gegerkan Dunia Maya", dan yang terbaru "Ini Dia Sosok Pilot Cantik yang Bikin Heboh."

Tidak ada yang salah, tetapi saya jadi teringat dengan pitutur jadul "dadi manungso ojo gumunan", jadi manusia itu janganlah gampang merasa kagum. Jadilah masyarakat yang waspada, karena yang selalu waspada akan selamat. Rahayu rahayu rahayu...kuat kuat kuat..salam asah asih asuh...


Read more ►

Sunday, October 27, 2013

Apakah Tokoh-Tokoh Pewayangan Hidup di Tanah Jawa?

82 comments
Kebudayaan Jawa, sering disebut-sebut sebagai turunan dari kebudayaan yang lebih tua dari India, terutama dari segi kebahasaan, dimana Bahasa Jawa merupakan turunan dari Bahasa Dewanagari yang ada di India. Bahkan bukan hanya Bahasa Jawa, beberapa bahasa di Nusantara juga merupakan turunan dari Bahasa Dewanagari yang sama. Benarkah?
Tentu saja saya tidak mampu menjawab itu. Tetapi mungkin dengan menggunakan objek lain yang masih berhubungan dengan hal itu, kita bisa mengambil kesimpulan mengenai hal ini. India dan Jawa mempunyai persamaan, diantaranya adalah kesamaan adanya tokoh-tokoh besar yang menjadi karakter utama dalam dunia pewayangan. Perbedaannya mungkin dalam penyebutan, seperti tokoh Yudhistira di India yang sering disebut Puntadewa di Jawa, Arjuna yang sama dengan Janaka, Bima yang sama dengan Werkudara, dll. 
Tokoh-tokoh itu dikenal terutama karena dua kisah epos klasik Ramayana dan Mahabarata, yang dikenal sebagai karya sastra dari India. Maka kemudian juga tokoh-tokoh dalam kedua kisah tersebut hidup di India, benarkah? Lantas mengapa tokoh-tokoh dalam karya sastra klasik India lebih dekat secara kultural dengan masyarakat Jawa? Bahkan di India tidak ada Panakawan, sementara di Jawa lebih lengkap dengan adanya Panakawan. 
Lagi-lagi saya harus mengatakan tidak bisa menjawab itu, tetapi dengan pertanyaan tersebut muncul kemungkinan yang bisa jadi mengejutkan kita semua, yaitu bahwa tokoh-tokoh pewayangan yang juga tokoh-tokoh dalam kitab Mahabarata dan Ramayana itu adalah tokoh-tokoh yang pernah hidup di tanah Jawa. Lagi-lagi yang saya gunakan adalah kedekatan emosional dan kedekatan kultural, yang tentu saja tidak akan diterima di dalam metode penelitian ilmiah manapun. Tetapi tentu saja tak masalah, karena tujuan dari tulisan ini adalah membangkitkan rasa penasaran pembaca mengenai sejarah Jawa di masa lalu.
Mari kita tutup tulisan ini dengan pertanyaan, "Apakah mungkin orang India menulis Ramayana dan Mahabarata atas permintaan dari penguasa di Jawa, yaitu tokoh-tokoh pewayangan itu sendiri?"
Read more ►

Wednesday, September 11, 2013

Ragam Bahasa Indonesia Baru: Gaya Bahasa Vicky

4 comments
gaya bahasa vicky, vicky prasetyo, gaya bahasa vikcy prasetyo, konspirasi kemakmuran, kontroversi hati
Kabar yang kurang menyenangkan yang datang dari penyanyi dangdut Zaskia Gotik, ternyata hanya seumur jagung karena peristiwa batalnya pertunangan itu kemudian diikuti dengan munculnya sebuah fenomena yang cukup mengguncang, bukan hanya dunia hiburan namun juga (mungkin) para ahli bahasa Indonesia setelah beberapa kalimat yang diucapkan mantan tunangan sang penyanyi, Vicky Prasetyo memuat beberapa frasa yang sedikit unik, dalam artian unik karena belum pernah ada yang mengatakan frasa itu sebelumnya; pertanyaannya kemudian apakah akan muncul ragam Bahasa Indonesia (baru) lagi setelah bahasa alay dan frasa-frasa yang diucapkan Syahrini? Dunia kebahasaan Indonesia (mungkin) cukup terguncang dengan adanya frasa-frasa "baru", yang mungkin membuat para intelektual bahasa berpikir kembali betapa masih mudanya Bahasa Indonesia, sehingga siapapun bisa merubah-rubah susunan atau patron-patron yang sudah terbentuk secara bertahap, seperti Ejaan Van Ophuisjen hingga Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) seperti menjadi tak berguna.
Namun ada yang cukup mengejutkan karena tafsir frasa-frasa itu sudah muncul di dunia maya, seperti yang muncul di laman forum Tribunnews. Dalam forum tersebut diuraikan secara jelas makna frasa-frasa "baru" tersebut. Seperti:
Kontroversi Hati
Ungkapan untuk menunjukkan gejolak hati yang bertentangan, atau menunjukkan kebimbangan.
Konspirasi Kemakmuran
Merupakan sebuah kondisi dimana kemakmuran menjadi sebuah hal yang sangat diperlukan.
Harmonisasi
Proses menuju harmonis.
Mempertakut
Membuat menjadi lebih takut.
Statusisasi Kemakmuran
Proses penentuan kemakmuran.
Labil Ekonomi
Suatu kondisi dimana kondisi ekonomi sedang mengalami ketidakstabilan.

Mungkin tidak semuanya keliru, karena "harmonisasi" merupakan kata yang lazim dan sudah dikenal di dalam penggunaan Bahasa Indonesia sehari-hari, khususnya yang berkaitan dengan musik. Tetapi ketika kata tersebut digunakan sembarangan seperti yang diucapkan oleh Kau-Tahu-Siapa, maka akan menjadi keliru. Contohnya adalah ketika kata itu digunakan dalam kalimat seperti ini, "Kurang kompak nih, kita harus harmonisasi." Tak perlu dijelaskan panjang lebar, kalimat tersebut keliru dalam menggunakan kata "harmonisasi", karena "harmonisasi" adalah kata benda, sementara ketika kalimat tersebut menyinggung sebuah situasi tertentu seperti "kompak" yang merupakan kata sifat, maka "harmonisasi" kurang tepat, karena untuk mengungkapkan kondisi itu harus memakai kata sifat, maka kata yang digunakan adalah "harmonis." Silahkan pembaca membandingkan:
"Kurang kompak nih, kita harus harmonisasi." dengan
"Kurang kompak nih, kita harus harmonis."
Karena masyarakat baru mendengar pertama kali, maka yang terjadi adalah cemoohan dan hujatan yang bertubi-tubi dari masyarakat. Bahkan setelah diusut, bukan pertama kali ini saja Kau-Tahu-Siapa menggunakan bahasa yang semacam itu, karena ketika kampanye pemilihan lurah ia juga memakai bahasa yang tidak teratur, dan ia memakainya dengan bahasa Inggris yang fasih, meskipun secara grammar tidak bisa dibenarkan. Penulis tidak masalah kalau yang diobok-obok adalah bahasa asing, karena Kurt Cobain juga mempunyai bahasa yang tidak mempedulikan grammar, tetapi bedanya adalah kata-kata yang digunakan Cobain lebih teratur dan enak didengar ataupun dibaca. Latar belakang mereka yang sangat berbeda mungkin berpengaruh.
Tetapi yang patut diperhatikan oleh siapapun, ternyata Bahasa Indonesia yang merupakan pemersatu bangsa dan pilar kebangsaan justru mudah sekali diubah-ubah tanpa dasar sehingga terkesan melecehkan. Maka, pemerintah bersama ahli bahasa Indonesia harus segera menanggapi masalah ini, tidak hanya membiarkan dengan harapan akan hilang dengan sendirinya.

Read more ►

Thursday, September 5, 2013

Selamatkan Majapahit dan Nusantara!

2 comments
Apa yang saya tulis di blog ini hanyalah meneruskan sebuah upaya yang sedang benar-benar diperjuangkan oleh beberapa saudara-saudara kita yang masih merawat apa yang diwariskan leluhur Nusantara pada generasi kita sekarang. Upaya ini merupakan salah satu wujud keprihatinan betapa Kapitalisme sudah begitu parah di negeri ini sehingga apapun harus dijadikan sesuatu untuk memperkaya diri. Padahal leluhur kita mengajarkan bahwa kaya tidak melulu mempunyai uang yang banyak. Sugih tanpa bandha, ungkapan itulah yang dahulu sering dikatakan para nenek kepada cucunya atau orang tua kepada anaknya. 

KITA BARU SAJA DIKAGETKAN DENGAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN PABRIK BAJA PT MANUNGGAL SENTRAL BAJA DI DI KAWASAN PENYANGGA SITUS TROWULAN MAJAPAHIT. TEPATNYA DI PINGGIR JALAN SURABAYA-MADIUN, DESA JATI PASAR DAN DESA WATES UMPAK.

Maka, saudara-saudara kita, bersama-sama dengan Kadangkadeyan Sabdalangit dan Ki Camat serta Kampus Wong Alus dan Alang Alang Kumitir mengajak kita semua untuk menyelamatkan Majapahit, dengan sebuah acara yang dinamakan;

RITUAL AGUNG UPACARA ADAT
 SELAMATKAN MAJAPAHIT SELAMATKAN NUSANTARA

Upacara ini akan dilaksanakan pada:
Hari Sabtu Pon (21 September 2013)
Pukul 21.00 WIB
Tempat di Halaman Candi Brahu, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur
Disarankan mengenakan pakaian adat/daerah

-------------------------------------------------------------------------------------

Lebih jelasnya mengenai acara ini, saudara-saudara bisa mengunjungi:
Read more ►

Monday, July 15, 2013

Poso, Siam, Fasting

0 comments
Tahun ini bulan Ramadhan sedikit berbeda, yaitu pada kebiasaan alam dimana tahun lalu bulan Ramadhan masuk pada sebuah masa yang oleh orang-orang lokal kita disebut "Mangsa Bedhidhing", yaitu sebuah masa dimana siang hari terasa sangat panas sementara malam harinya dingin menggigit. Hampir mirip dengan iklim gurun, tetapi Tuhan membuatnya lebih ramah untuk masyarakat Indonesia. Tetapi saat ini masa "bedhidhing" ini sedikit berbeda karena siang hari kadang hujan lebat sementara malam hari tetap dingin meskipun tidak sedingin "bedhidhing" sekitar 10 sampai 15 tahun lalu. Tetapi apapun itu, hujan tetap harus disyukuri sebagai karunia dan sedikit bantuan Tuhan untuk manusia agar tidak terlalu merasa haus ketika siang hari dikala sedang menjalankan ibadah puasa. Karena bagaimanapun, satu-satunya ibadah yang diklaim oleh Tuhan sebagai miliknya adalah puasa, kata Emha.
Yang biasanya terjadi adalah ketika anak-anak berisik ketika tarawih di mesjid, bahkan kadang beberapa yang kreatif suka menukar sandal sehingga ketika tarawih selesai para orang tua dituntut untuk lebih jeli agar tidak keliru mengenali jodoh kakinya. Sungguh hal tersebut dari lubuk hati paling dalam jangan sampai hilang. Bulan ramadhan adalah bulan yang unik, sebagaimana anak-anak yang juga unik. Saran untuk orang-orang tua, jangan selalu memarahi anak-anak ketika mereka mengucapkan "amin" yang sangat panjang disusul tawa cekikikan ketika imam selesai membaca Al-fatihah, karena hal-hal seperti itulah yang membuat kerinduan akan bulan ramadhan ketika bulan yang unik ini usai. Dan beruntunglah karena hanya di Indonesia hal-hal seperti itu bisa dijumpai.
Maka meskipun ramadhan di seluruh dunia sama, tetap ada perbedaan diantara semuanya. Seperti halnya poso di Indonesia, siam di Arab, dan fasting di Eropa atau Inggris. Mereka sama-sama menahan hawa nafsu, tetapi mempunyai perbedaan-perbedaan pada semangat, tradisi dan kebudayaan, dimana diantara ketiganya negara inilah yang paling unik. 

Read more ►

Monday, July 1, 2013

Gending Ketawang Puspawarna Sebagai Karya Tertinggi Peradaban Manusia

0 comments
piringan emas yang berisi komposisi dunia
Mendengar nama KGPAA Mangkunegara IV, yang pertama terlintas di sebagian besar masyarakat mungkin adalah Serat Wedhatama. Hal tersebut memang wajar karena serat tersebut merupakan salah satu masterpiece Mangkunegara IV. Raja sekaligus pujangga tersebut memang sangat produktif dalam membuat karya-karya besar monumental yang abadi. Tetapi mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa salah satu karya beliau yang berupa gending ternyata telah diputar di luar angkasa yaitu di bulan. Komposisi musik asli Jawa tersebut dibawa ke luar angkasa oleh pesawat Voyager milik Amerika pada tahun 1977. 

Sebenarnya ada sekitar 26 komposisi lainnya dari seluruh dunia, ditambah Gending Ketawang Puspawarna menjadi 27 karya musik. Seorang profesor di bidang etnomusikologi Robert Brown dan astronom carl Sagan adalah orang-orang yang memilih karya-karya tersebut untuk diputar di luar angkasa. Selanjutnya, gending ini disebut-sebut sebagai karya musik dengan harmonisasi terbaik yang pernah diciptakan sekaligus pencapaian tertinggi dalam sejarah musik manusia.

Terlepas dari karya ini yang memang begitu megah, mungkin perlu dicermati dan diteliti mengenai tujuan NASA memutar musik di luar angkasa dengan memilih karya-karya terbaik dari seluruh dunia. Khusus Gending Puspawarna ini sendiri, menurut para penghayat spiritualitas, memiliki aura dan energi dalam suara yang dikeluarkannya. Bahkan juga disebutkan bahwa suara dari gending ini sinergis dengan gelombang suara-suara natural dari jagat raya ini. Ada juga yang menyebutkan karya-karya ini digunakan untuk menemukan keberadaan makhluk asing di luar angkasa. 

Tapi apapun alasannya, sudah saatnya bayi-bayi yang lahir ke Nusantara saat ini ataupun di masa yang akan datang tumbuh dengan diiringi Gending Puspawarna ini ketimbang musik-musik klasik dari peradaban barat. 
Read more ►

Sunday, June 23, 2013

Mengenal Budaya Maritim Melalui Pagelaran Seni ArtJog 2013

0 comments
Pagelaran seni kontemporer ArtJog 2013 kembali digelar tahun ini yang dimulai pada tanggal 6 - 20Juli 2013 mendatang di Gedung Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Pameran ini melanjutkan pameran-pameran sebelumnya, Jogja Art Fair sebelum berubah menjadi ArtJog; tahun ini adalah pagelaran ArtJog ketiga setelah dua edisi sebelumnya yaitu tahun 2011 dan 2012 selalu memunculkan kejutan bagi pengunjung. Tahun lalu pagelaran seni ArtJog membawa tema "Looking East: A Gaze Upon Indonesian Contemporary Art", yang seolah-olah mengatakan bahwa karya seni rupa dari Asia, khususnya Indonesia merupakan karya seni yang kuat, karena ia bekerja seperti sebuah scene (Lorenzo Rudolf, Direktur Art Stage Singapore, pendapatnya tentang seni rupa Indonesia, Dok. ArtJog 2012).

Commision Works ArtJog 2011
Untuk tahun ini, ArtJog akan mengusung tema "Maritime Culture", sebagai sebuah pesan bahwa budaya maritim adalah salah satu kebudayaan Indonesia sebagai negara kepulauan. Dan dalam perkembangannya, kebudayaan maritim telah membawa perubahan besar dalam sejarah Indonesia, bagaimana ketika Angkatan Laut Cina yang saat itu ditakuti luluh lantak di perairan Selat Sunda karena serangan dari Raja Dewawarman, penguasa Kerajaan Salakanagara. Kejayaan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Kemudian juga kedatangan pedagang-pedagang Arab, sampai kedatangan kolonial Belanda.

Commision Works ArtJog 2012
Maka, tak salah kiranya jika tema besar "Maritime Culture" diangkat menjadi sebuah tema pada pagelaran ArtJog 2013 ini, meskipun Yogyakarta sebenarnya adalah daerah pedalaman. Tetapi yang penting diingat adalah, Yogyakarta merupakan wilayah kecil dengan dinamika yang melebihi apa yang terlihat. Berbagai orang dari latar belakang, suku, berada di kota ini. Dengan harmoni dan dinamika yang ada di Yogyakarta inilah harapannya pengunjung akan menikmati sekaligus menyelami seperti apa budaya maritim di Indonesia, melalui karya-karya seni yang mungkin akan memunculkan berbagai tafsiran dan ekspresi bagi masing-masing pengunjung.
Read more ►

Monday, May 20, 2013

Doa Kumail (1)

0 comments
Doa Kumail, doa legendaris yang diwariskan oleh Nabi Khidir AS kepada Ali bin Abi Thalib, yang kemudian diwariskan kepada muridnya yang bernama Kumail. Dari Kumail-lah doa tersebut sampai kepada generasi sekarang, menjadi salah satu doa wajib Pasukan Hizbullah. Bahkan kepada Kumail, Sayyidina Ali pernah berkata, "bacalah doa ini sekali setiap malam, atau setiap malam Jum'at, atau sekali sebulan, atau sekali setahun, atau sekali seumur hidupmu."

Di bawah ini, merupakan terjemahan Doa Kumail dalam bahasa Indonesia, yang akan dibagi dalam dua tulisan karena doa ini cukup panjang. Semoga dengan bahasa yang bisa dimengerti, inti dari doa ini dapat ditangkap dan diresapi oleh pembaca sekalian.

DOA KUMAIL

(1)
Ya Allah! Aku memohon dengan Rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu.

(2)
...dengan kekuatan-Mu yang dengannya Kau taklukkan segala sesuatu dan di hadapan kekuatan-Mu itu semua tertunduk hina dan merendah.

(3)
...dengan kemuliaan-Mu yang tiada tertandingi.

(4)
...dengan kedigdayaan-Mu yang melampaui segala sesuatu

(5)
...dengan kemuliaan-Mu yang memenuhi segala sesuatu

(6)
...dengan kekuasaan-Mu yang lebih tinggi dari segala sesuatu

(7)
...dengan wajah-Mu yang kekal abadi setelah kesirnaan segala sesuatu

(8)
Dengan asma-Mu yang memadati sendi-sendi segala sesuatu

(9)
Dengan pengetahuan-Mu yang mencakup segala sesuatu.

(10)
...dan dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari segala sesuatu.

(11)
Wahai Cahaya na Maha Kudus!

(12)
Wahai Awal dari semua awal!
Wahai Akhir dari semua akhir!

(13)
Ya Allah! Ampunillah dosa-dosaku yang merusakkan penjagaan...

(14)
Ya Allah,
ampunillah dosa-dosaku yang mendatangkan bencana

(15)
...dosa-dosaku yang mengganggu (kelanggengan) nikmat

(16)
...dosa-dosaku yang menghalangi doa

(17)
...dosa-dosaku yang menurunkan bencana

(18)
Ya Allah! Ampunillah semua dosa yang telah kulakukan, semua kesalahan yang telah kukerjakan.

(19)
Ya Allah, aku datang menghampiri-Mu...

(20)
...dengan berdzikir kepada-Mu

(21)
...dan meminta perantara-Mu semata untuk menuju-Mu

(22)
Aku memohon dengan kemurahan-Mu, perkenankan aku mendekati-Mu, senggangkan waktuku mensyukuri-Mu dan gugahkan pikiranku untuk mengingat-Mu, selalu.

(23)
Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu dengan sepenuh ketundukan, kerendahan, dan kekhusyukan.

(24)
Sudilah kiranya Kau (kembali) memaafkan dan berbelas kasih padaku, membuatku rela dan puas pada pembagian-Mu...

(25)
...dan membuatku selalu bersikap rendah hati kepada-Mu dalam segala keadaan

(26)
Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu dengan permohonan orang yang sangat berat bebannya, yang sangat menumpuk hajatnya dan yang berharap banyak pada segala apa yang ada di sisi-Mu.

(27)
...Ya Allah! Sungguh agung kekuasaan-Mu

(28)
...tinggi kedudukan-Mu

(29)
...tersembunyi makar-Mu

(30)
Tampak nyata urusan-Mu, tak terkalahkan keperkasaan-Mu, terlaksana kodrat-Mu, dan tak mungkin mengelak dari kerajaan-Mu.

(31)
Ya Allah! Tiada pengampunan dosa, tiada penutup keburukan, kecuali Engkau

(32)
Tiada pengganti keburukan dengan kebaikan, kecuali Engkau, sekali-kali tiada Tuhan selain-Mu, Maha Suci dan Maha Terpuji Engkau!

(33)
Telah kuaniaya diriku dan ceroboh nian daku (dalam langgar perintah-Mu)

(34)
...Tapi aku tetap tenang lantaran perhatian dan karunia-Mu padaku

(35)
Wahai Maulaku!
Betapa banyak keburukanku yang Kau sembunyikan,
betapa banyak malapetaka yang Kau hindarkan,
betapa banyak sandungan yang Kau singkirkan,
betapa banyak bencana yang Kau tepiskan,
dan betapa banyak pujian yang tak layak kusandang Kau sebarkan.

(36)
Ya Allah!
Teramat besar bencanaku,
terlampau parah keburukan kondisiku,
terlalu sedikit amal perbuatanku,
terjerat daku oleh berbagai belenggu,
tertahan peruntunganku oleh angan-anganku yang panjang,
tertipu oleh godaan-godaan dunia,
terkecoh daku oleh pengkhianatan dunia,
dan (waktuku) yang suka mengulur-ulur

(37)
Wahai Junjunganku!
Dengan kemuliaan-Mu, aku memohon kepada-Mu agar kebejatan tindakan dan kerusakan perangaiku tidak menghalangi doaku,
agar kesamaran rahasiaku yang telah Engkau ketahui tidak Engkau ungkapkan,
dan agar tidak Kau segerakan siksa atas semua kelakuanku dalam kesendirianku,
(berupa) jeleknya perbuatan dan kejahatanku,
berkekalannya (sikap) keterlaluan dan kedunguanku,
serta banyaknya syahwat dan kelalaianku.

(38)
Ya Allah!
Dengan kemuliaan-Mu, sayangilah aku dalam semua suasana,
dan kasihilah aku dalam semua perkara.

(39)
Tuhanku dan Pemeliharaku!
Siapa lagi bagiku selain-Mu,
yang bisa kuminta untuk menghilangkan kesengsaraanku,
dan memperhatikan urusanku

(40)
Tuhanku dan Pelindungku!
Engkau tetapkan hukum padaku, tapi aku mengikuti nafsuku,
Aku gagal mencermati tipuan musuhku (setan),
yang membujukku dengan sesuatu yang kusenangi.
Dialah yang mendorong berlakunya qadha-Mu atas diriku.
Dalam semua yang terjadi itu telah kulampaui batas-batas yang telah Kau tetapkan,
dan perintah-perintah yang Kau berikan.
Sungguh cukup sudah alasan (hujjah) bagi-Mu (untuk menyiksaku),
dan tiada alasan bagiku untuk menentang qadha, hukuman dan bencana-Mu padaku

(41)
Ilahi!
Aku mengharap-Mu setelah semua keteledoran dan kedurhakaanku,
dengan sikap penuh uzur, sesal dan hati yang hancur,
dengan rasa jera, meminta ampun dan sikap bertobat,
dengan sikap sadar (akan kesalahan), tunduk dan insaf (akan kecerobohan)

(42)
Sungguh!
Tiada tempat pelarian untukku,
tiada tempat perlindungan (dari akibat-akibat dosaku),
kecuali bila Kau terima permohonan uzurku,
dan Kau masukkan aku ke dalam keluasan Rahmat-Mu

(43)
Ya Allah!
Terimalah uzurku,
rahmatilah aku dari dahsyatnya penderitaanku,
dan bebaskan aku dari beratnya belengguku.

(44)
Wahai Pemeliharaku!
Kasihanilah kepapaan badanku,
kelembutan kulitku,
dan kerapuhan tulang-belulangku,

(45)
Wahai Dzat yang telah memulai dengan penciptaanku,
penyebutanku, penjagaanku, perlakuan baik dan pemberian makan padaku,
berikanlah padaku segala yang sejak sediakala telah Engkau mulai dengan kemurahan dan kebaikan untukku.

(46)
Tuhanku, Ilahku, dan Maulaku!
Akankah Kau siksa aku dengan api-Mu padahal jiwaku mengesankan-Mu,
hatiku karam dalam mengenal-Mu,
lidahku bergetar dalam menyebut-Mu,
perasaanku hanyut dalam mencintai-Mu,
pengakuanku tulus-ikhlas kepada-Mu,
dan doaku penuh ketundukan pada ketuhanan-Mu.

(47)
Sungguh mustahil!
Engkau, Tuhanku, terlalu mulia untuk mencampakkan orang yang telah Kau ayomi,
atau menjauhkan orang yang telah Kau dekatkan,
atau mengusir orang yang telah Kau naungi,
atau menjerembabkan dalam bencana orang-orang yang telah Kau cukupi dan rahmati.
(48)
Oh malangnya diriku, duhai Majikanku, Tuhanku, Maulaku!
Akankah Kau kepung dengan api wajah-wajah yang tersungkur sujud karena kebesaran-Mu,
lidah-lidah yang tulus mengucapkan keesaan-Mu dan dengan penuh puja-puji mensyukuri-Mu, kalbu-kalbu yang sungguh-sungguh mengakui keilahian-Mu,
sukma-sukma yang merengkuh ilmu tentang-Mu sehingga menjadi berserah-pasrah,
dan anggota-anggota tubuh yang terbiasa rebah mengabdi-Mu dan merangkak memohon-mohon ampunan-Mu?

(49)
Tidak! Tidak begitu persangkaan kami kepada-Mu.
Tidak begitu pula yang telah diberitakan kepada kami tentang keutamaan-Mu.
Wahai Maha Pemurah, Maha Pemelihara!
Engkau mengetahui kelemahanku dalam menanggung sedikit bencana dan derita dunia.
Engkau juga sudah mengetahui kepapaanku memikul prahara yang mendera penghuninya,
yang hanya singkat sekali masanya,
sebentar saja berlakunya,
dan pendek usianya.
Lalu bagaimana mungkin daku mampu menanggung petaka akhirat,
dan bermacam siksa dahsyat yang terdapat di sana,
yang berlangsung selama-lamanya dan berjalan kekal abadi?
Petaka yang tidak akan diringankan bagi para penanggungnya,
yang terjadi karena kemurkaan, pembalasan, dan amarah-Mu?
Sungguh bumi dan langit pun takkan sanggup memikul semua itu.

(50)
Ilahi, Rabbi, Junjunganku, dan Maulaku!
Untuk urusan apa kiranya aku mengadu pada-Mu?
Mengapa pula aku mesti merintih dan menangis?
Karena pedih dan dahsyatnya siksaan,
atau akrena lama dan langgengnya penderitaan?
Apakah Kau hendak menyiksaku beserta para musuh-Mu,
lalu Kau himpunkan aku bersama para penerima petaka-Mu,
dan Engkau ceraikan aku dari para kekasih dan wali-Mu?
Oh...Ilahku, Junjunganku, Maulaku, Rabbi!
Sekiranya aku sanggup bersabar menanggung siksa-Mu,
mana sanggup aku bersabar menanggung perpisahan dengan-Mu?
Sekiranya aku dapat bersabar menahan panasnya api-Mu,
mana sanggup aku bersabar tidak melihat kemuliaan-Mu?
Mana pula sanggup aku tinggal di neraka padahal harapanku hanya pengampunan-Mu?

(51)
Demi kemuliaan-Mu, duhai Junjunganku dan Maulaku!
Aku bersumpah setulus-tulusnya,
sekiranya (kelak) Kau bolehkan lidahku berkata-kata di tengah-tengah para penghuni neraka,
aku akan tetap menangis dengan tangisan orang yang penuh berpengharapan,
aku akan menjerit dengan jeritan mereka yang memohon pertolongan,
dan aku akan merintih dengan rintihan orang yang pupus harapan.
Sungguh, aku akan menyeru di mana pun Kau berada...
wahai Wali kaum mukminin!
Wahai puncak dambaan kaum arifin!
Wahai tumpuan kaum yang meminta lindungan!
Wahai buah hati para pencari kebenaran!
Wahai Tuhan Seru Sekalian Alam!

(52)
Tersucikan Engkau, duhai Tuhanku, dengan segala puji-puja!
Oh...bagaimanakah kiranya tindakan-Mu saat mendengar suara hamba Muslim yang terkungkung (di dalam neraka) akibat penentangannya,
yang merasakan siksa akibat kedurhakaannya,
yang terjepit di antara dinding-dindingnya akibat kedurjanaan dan kenistaannya?
Sementara dia merintih pada-Mu dengan mendambakan rahmat-Mu,
menyeru-Mu dengan lidah orang yang bertauhid kepada-Mu,
berperantara kepada-Mu melalui Ketuhanan-Mu.

(53)
Wahai Pelindungku!
Mungkinkah ia kekal dalam siksa
padahal ia berharap pada kesabaran-Mu yang terdahulu?
Mungkinkah neraka membakarnya
padahal ia mendambakan karunia dan kasih-Mu?
Mungkinkah bara neraka menghanguskannya,
padahal Engkau mendengar suaranya dan melihat tempatnya?
Mungkinkah jilatan api mengurungnya,
padahal Engkau mengetahui kelemahannya?
Mungkinkah ia menggelepar (kesakitan) di antara rongga-rongganya,
padahal Engkau mengetahui ketulusannya?
Mungkinkah malaikat Zabaniyah (penyembur api) mengempas-empasnya,
padahal ia memanggil-manggil Nama-Mu...Ya Rabbi!
Oh...bagaimana mungkin ia mengharapkan anugerah pembebasan dari neraka,
lalu Kau biarkan ia di dalamnya?
Sungguh, tidaklah demikian sangkaanku pada-Mu,
juga tidaklah demikian yang terkenal dari anugerah-Mu,
tidak pula serupa itu perlakuan-Mu terhadap kalangan yang bertauhid (yang selalu Kau limpahi) kebaikan dan karunia.
Karena itu, dengan yakin aku berani berkata: kalaulah bukan karena putusan-Mu untuk menyiksa orang yang mengingkari-Mu,
dan qadha-Mu untuk mengekalkan orang-orang yang melawan-Mu,
niscaya akan Engkau jadikan neraka sejuk dan damai,
dan tiada lagi seorang pun bertempat tinggal dan menetap di sana.

(54)
Tapi Mahakudus Asma-Mu.
Engkau telah bersumpah utnuk mengisi neraka dengan orang-orang kafir dari golongan jin dan manusia.
Dan Engkau telah pula bersumpah untuk mengekalkan kaum durhaka di sana.
Dengan segala keagungan sifat terpuji-Mu,
Engkau telah berfirman dan Engkau juga telah memberi kenikmatan yang berlimpah ruah: “Apakah orang mukmin sama dengan orang fasik? Sungguh mereka tidaklah sama!”
Read more ►

Friday, April 26, 2013

Dwi Naga Rasa Tunggal - Dwi Nagara Satunggal

1 comments
Apabila mengunjungi Kraton Yogyakarta, dua ular naga yang ekornya saling melilit akan menyambut para wisatawan tepat setelah pintu masuk. Naga tersebut merupakan candra sengkala berupa sengkalan memet, yang dibaca “Dwi Naga Rasa Tunggal” atau jika diubah ke dalam angka menjadi angka tahun 1682. Tetapi ternyata ada makna lain yang mengejutkan.
Dwi Naga Rasa Tunggal bisa diartikan sebagai dua naga yang menjadi satu. Tetapi jika kata itu dibaca dengan cara yang berbeda akan menghasilkan kata “Dwi Nagara Satunggal” atau dua negara yang menyatu. Mengingatkan tentang Kraton Yogyakarta yang telah diakui eksistensinya oleh dunia internasional bergabung dengan Negara Indonesia yang baru saja mengumumkan kemerdekaannya.
Kemudian, apakah Sultan HB I telah mengetahui masa depan kerajaan yang didirikannya itu? Mengingat pada suatu peristiwa, Sultan HB IX yang mendapat “bisikan” untuk membuat suatu keputusan besar yang akan mempengaruhi Indonesia ke depannya. Dan “bisikan” tersebut benar adanya.
Jika benar begitu, tampaknya kata Dwi Naga Rasa Tunggal bukan hanya tahun kelahiran Kraton Yogyakarta, tetapi juga Dwi Nagara Satunggal, yaitu bergabungnya dua negara, Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 
Read more ►

Wednesday, April 24, 2013

Misteri Letak Kraton Yogyakarta

2 comments
Kraton Yogyakarta merupakan salah satu tujuan wisata utama di Yogyakarta. Dengan dibukanya Kraton Yogyakarta sebagai tujuan wisata, tentunya image kraton yang wingit, angker, ataupun tertutup perlahan mulai hilang, meski ada beberapa bagian dari Kraton Yogyakarta yang tidak boleh dimasuki orang lain kecuali kerabat dan para Abdi Dalem. Tetapi pernahkah memikirkan, mengapa tempat itu yang dipilih untuk didirikan bangunan kraton? Apakah ada makna khusus sehingga tempat itu yang dipilih oleh Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengku Buwono I?
Sebagai salah satu penghubung antara kejayaan masa lalu Nusantara dengan modernitas Indonesia, Keraton Yogyakarta mempunyai hal-hal yang masih menjadi misteri, dari apa yang bisa dilihat oleh masyarakat, ataupun yang tidak bisa dilihat oleh masyarakat. Bahkan hal-hal yang bisa dilihat dengan jelas pun kadang masih menyisakan misteri yang tidak mudah untuk dipahami. Salah satunya letak Kraton Yogyakarta yang ada di sebelah selatan Jalan Malioboro yang legendaris.
Sudah diketahui secara luas bahwa letak Kraton Yogyakarta berada di antara Gunung Merapi di utara dan Laut Selatan di selatan. Juga berada di antara dua sungai, Sungai Code di timur dan Sungai Winongo di barat. Dan pemilihan tempat itu menjadi lokasi bangunan kraton, ternyata bukanlah sembarangan.
Pertama, permukaan tanah yang kini berdiri bangunan Kraton Yogyakarta merupakan gundukan yang lebih tinggi daripada permukaan tanah di sekitarnya. Istilahnya, berada pada bathok bulus (cangkang kura-kura). Dengan permukaan tanah yang lebih tinggi, kraton tidak akan tergenang air ketika hujan lebat. Dan sejak pertama dibangun sampai sekarang, Kraton Yogyakarta belum pernah tergenang air.
Kemudian kedua, Kraton Yogyakarta terletak antara dua kekuatan alam, yaitu gunung dan samudra. Dalam kepercayaan hinduisme, dikenal istilah palemahan – pawongan – parahiyangan. Samudra atau Laut Selatan merupakan simbol palemahan, Kraton Yogyakarta di tengah-tengah sebagai simbol pawongan, sementara Gunung Merapi di utara sebagai parahiyangan. Kemudian, oleh Pangeran Mangkubumi atau Sultan HB I konsep hiduisme tersebut diubah ke dalam konsep Islam-Jawa, yaitu Manunggaling Kawulo Gusti. Konsep Manunggaling Kawulo Gusti disini bukan diartikan sebagai bersatunya hamba dan Tuhan, tetapi bersatunya rakyat dan penguasa. Kraton Yogyakarta juga diapit oleh dua bangunan, yaitu Tugu Yogyakarta (Tugu Golong Gilig) di sebelah utara, dan Kandang Menjangan di sebelah selatan, tepatnya di Krapyak. Ternyata bangunan tersebut juga diadaptasi dari konsep hindu yang diubah menjadi konsep Islam-Jawa. Pada konsep hindu, dikenal bangunan Lingga dan Yoni, yang mana merupakan lambang kesuburan atau kadang disebut sebagai lambang pria dan wanita. Tugu Yogyakarta berperan sebagai Lingga, sementara Kandang Menjangan berperan sebagai Yoni. Oleh Pangeran Mangkubumi atau Sultan HB I, konsep tersebut diubah ke dalam konsep Islam-Jawa, yang dikenal dengan sebutan sangkan paraning dumadi (asal mula kehidupan). Dari Krapyak menuju Kraton disebut sangkan, sementara dari Kraton ke Tugu adalah dumadi. Seringkali orang-orang menyebut garis imajiner dari tugu ke krapyak, padahal sebenarnya adalah garis filosofi, karena benar-benar ada garisnya, yaitu berupa jalan raya.
Ketiga, tempat yang terletak antara dua sungai bagi masyarakat India merupakan tempat yang hanya untuk bangunan tempat suci. Jadi tidak sembarangan mendirikan bangunan yang terletak di antara dua sungai. Tetapi di Indonesia, Kraton Yogyakarta berdiri di antara dua sungai.
Pangeran Mangkubumi yang kelak bergelar Sultan Hamengku Buwono I selain panglima perang yang tangguh juga merupakan arsitek ulung. Hal itu tercermin dari bangunan Kraton Yogyakarta, baik letak, tata ruang, ataupun ornamen-ornamen yang ada di kraton. Penggunaan dominasi warna hijau tua dan keemasan juga tidak sembarangan, karena warna tersebut mempunyai makna tersendiri. Juga berdirinya Kraton Yogyakarta, ternyata mempunyai rahasia, dan itu sangat berhubungan erat dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Read more ►

Tuesday, February 19, 2013

Makna Simbolisasi Tumpeng

6 comments
Masyarakat Jawa sangat mengenal tumpeng sebagai salah satu ubarampe atau media yang digunakan dalam berbagai keperluan, misalnya sebagai sesaji. Tumpeng yang secara umum dikenal dengan bentuk kerucut, dengan berbagai aneka makanan di sekelilingnya, ternyata bukan sembarang makanan yang hanya bagus dalam penampilannya. Banyak makna yang terkandung di dalamnya, yang bisa dijadikan sebagai refleksi bagi para pembuatnya yaitu manusia. 
Pertama, bentuk kerucut seperti itu bukan tanpa tujuan. Bentuk-bentuk seperti kerucut, piramid, kubah, atau stupa merupakan bentuk-bentuk bangunan yang bisa menangkap energi alam dengan sempurna, itulah mengapa bangunan-bangunan masa lalu atau bangunan tempat ibadah menggunakan bentuk-bentuk seperti itu. Kerucut, yang lebar di bagian bawah kemudian meruncing pada puncaknya mirip seperti gunung, salah satu tempat yang keramat bagi masyarakat Jawa. 
Kemudian, aneka makanan di sekeliling tumpeng yang sering disebut jajanan pasar, merupakan simbolisasi bahwa manusia hidup akan mengalami berbagai peristiwa baik manis, pahit, pedas, ataupun yang lain-lainnya, tetapi semua peristiwa itu membawa manusia kepada puncak tumpeng, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Yang terakhir adalah, nama "tumpeng" sendiri merupakan salah satu ragam bahasa jawa yang disebut jarwo dhosok, yang artinya "Tumindak Lempeng" atau perbuatan terpuji. Ketika manusia mampu menguasai peristiwa manis getir kehidupan, maka itu merupakan sebuah langkah untuk menuju puncak, yang harus didaki dengan tumindak lempeng, atau perbuatan-perbuatan yang terpuji. Baik secara fisik maupun mental.
Itulah mengapa masyarakat Jawa masih sering menggunakan tumpeng ketika memperingati momen yang dianggap penting, seperti ulang tahun. Dengan mengetahui makna tumpeng, diharapkan nantinya manusia akan lebih berusaha untuk berbuat terpuji untuk mencapai puncak tumpeng, atau menuju Tuhan Yang Maha Esa.
Read more ►

Saturday, January 19, 2013

Menelusuri Mangir Sebagai Daerah Perdikan

0 comments
Di dalam pengetahuan masyarakat Jawa, daerah perdikan merupakan daerah yang termasuk wilayah kerajaan, tetapi bebas dari pajak. Itulah yang selama ini terbayang jika mendengar istilah “daerah perdikan”. Terma “perdikan” memang dekat baik secara lisan maupun tertulis dengan kata “merdika” yang kemudian diserap ke dalam Bahasa Indonesia, “merdeka”.
Akan tetapi pada kenyataannya tidaklah seperti itu. Daerah perdikan yang dahulu disebut sebagai “sima” masih mempunyai tanggung jawab terhadap penguasa, meskipun tidak seperti daerah-daerah lain. Bisa dibilang daerah perdikan merupakan “daerah istimewa” di masa lalu. Dan penetapan suatu daerah menjadi daerah perdikan bukan semudah yang dipikirkan, karena terdapat upacara-upacara yang dilakukan khusus di daerah yang akan ditetapkan menjadi daerah perdikan tersebut. Kemudian, daerah tersebut mendapat semacam “piagam” berupa prasasti pengukuhan kepada daerah tersebut yang diletakkan di suatu tempat di daerah itu.
Di dalam buku tentang Mangir yang diterbitkan Pemkab. Kabupaten Bantul beberapa tahun lalu, disebutkan bahwa Mangir merupakan daerah perdikan sejak jaman Majapahit. Jika demikian, bolehlah kiranya salah satu sumber sejarah tentang daerah ini menjadi salah satu sumber penelitian, yaitu Babad Mangir. Babad Mangir yang anonim alias tidak diketahui pengarangnya merupakan kisah berbentuk tembang yang memang lazim digunakan pada era peralihan Hindu-Islam, atau era pascamajapahit untuk menjelaskan tentang suatu daerah atau tokoh tertentu.
Disebutkan dalam Babad Mangir bahwa Raden Alembumisani, leluhur Ki Ageng Mangir Wanabaya IV, yang merupakan putra Prabu Brawijaya V memilih menyingkir dari Majapahit dan mempunyai seorang putra yang diberi nama Dyan Wanabaya, di daerah Dander, yang berada di Ardi Kidul (ardi: gunung, ardi kidul: gunung kidul - ?). Kemudian Dyan Wanabaya yang menjadi Raden Wanabaya menyepi di Gua Langse. Di dalam gua itulah, Raden Wanabaya mendapat bisikan supaya pergi ke arah ngalor ngulon (barat laut) ke sebuah daerah bernama Mangir yang berada di pinggir Sungai Progo.
Berdasarkan penelitian dari berbagai prasasti yang menyatakan bahwa sebuah daerah perdikan ditetapkan dengan upacara dan piagam penetapan berupa prasasti, maka Mangir kemungkinan besar juga mempunyai prasasti yang menjadi piagam tersebut. Penetapan suatu daerah di masa lalu menjadi sebuah daerah perdikan juga mempunyai kriteria, diantaranya adalah daerah tersebut pernah berjasa kepada kerajaan sehingga kerajaan memberi imbalan kepada rakyat di daerah tersebut berupa “sima” atau perdikan (Boechari, Tracing Indonesian History Trough Inscriptions, 2012).
Dengan demikian, apakah di masa lalu pernah Mangir berjasa kepada Majapahit sehingga mendapat hadiah menjadi daerah perdikan? Tentunya di daerah tersebut sudah ada tokoh yang menonjol sebelum kedatangan Raden Wanabaya ke Mangir. Siapakah tokoh itu jika memang benar-benar ada? Dan yang paling penting, dimanakah piagam penetapan jika mengacu pada penelitian di atas (penemuan naskah Babad Mangir ada di lokasi yang cukup jauh dengan pusat pemerintahan, sekitar 2 atau 3 km ke arah timur, di daerah sekitar Jl. Samas, Bantul). Bukan tidak mungkin prasasti itu berada di lokasi yang juga jauh dari pusat pemerintahan, karena di masa lalu daerah Mangir cukup luas, berbeda dengan Mangir sekarang yang hanya terdiri dari tiga pedukuhan, Mangir Lor, Tengah, dan Kidul.
Perhatian lebih mungkin bisa ditujukan kepada seseorang yang disebut dalam Babad Mangir, bernama Ki Paker yang akhirnya menjadi ayah mertua Ki Ageng Mangir IV. Mungkin ia adalah tokoh yang menonjol di Mangir sebelum kedatangan Raden Wanabaya dari Gunungkidul ke Mangir.

Read more ►
 

Copyright © nglengkong Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger